Rabu, 13 Januari 2016

Kunci Sukses dalam Berorganisasi

Kunci sukses dalam berorganisasi



Organisasi adalah salah satu aspek penunjang kesuksesan seseorang atau sebuah perusahaan. Untuk itu butuh keahlian khusus dalam me-manage sebuah organisasi agar organisasi tersebut bisa tumbuh dan menjadi kekuatan dalam menunjang keberhasilannya. Peran seorang pemimpin sangat menentukan bagi kemajuan sebuah organisasi. Kepemimpinan yang bagus juga akan berimbas pada kinerja anggota yang bagus dan sebaliknya pemimpin yang kurang bagus juga berimbas pada kinerja anggota yang kurang maksimal atau tidak sepenuh hati menjadi anggotanya. Disini saya punya tips kunci sukses dalam berorganisasi berdasarkan pengalaman saya menjadi seorang ketua dan pengetahuan dari berbagai literatur dan berbagai forum dikusi.
Kunci sukses berorganisasi dapat saya singkat dengan "DIA PITAK K-3". Kunci sukses ini mencakup semua aspek yang menunjang keberhasilan sebuah sistem dalam berorganisasi.
D : Disiplin
Semua orang pasti setuju dengan kata yang satu ini, DISIPLIN. Anda juga kan? Ayo dong anggukan kepala anda? Hehe. Dengan kita disiplin kita akan bisa mencegah atau paling tidak tak kan ada kegiatan yang sia-sia atau buang-buang waktu (wasting time) yang dapat menghancurkan kemajuan organisasi. Dengan kita disiplin dan sudah terbiasa dengan itu maka saya yakin tak kan ada sikap terburu-buru seperti dikejar-kejar kucing anjing.
I : Iman
Setiap organisasi harus dilandaskan oleh suatu pegangan yang bisa menuntun langkah ke jalan yang benar. Banyak organisasi yang tidak berlandaskan atas keimanan seperti layaknya gank-gank motor, organisasi para preman, organisasi kejahatan, dll. Mereka juga sama sebuah organisasi yang ingin mencapai suatu misi tertentu. Bedanya adalah mereka tidak punya dasar keimanan sehingga tujuannya pun pasti akan negatif. Untuk itu setiap organisasi harus dilandasi keimanan (agama).
A : Aku Senang
Dalam berorganisasi harus bisa menikmati proses yang sedang berjalan. Jika ada hambatan nikmatilah. Prinsip aku senang disini berarti seseorang yang merasa tulus dan ikhlas berada dalam sebuah organisasi tanpa ada keterpaksaan atau pun rasa tidak nyaman. Jika seseorang merasa tidak nyaman berada dalam sebuah organisasi sudah barang tentu kinerjanya juga pasti akan bermalas-malasan atau sekadarnya.
P : Progressif
Organisasi yang baik adalah organisasi yang berpikir kedepan dan terus maju. Sebuah organisasi harus punya semangat progressif (semangat untuk maju). Jangan mau kalah sama kemajuan organisasi lain. Cobalah tanamkan sebuah motivasi kepada anggota untuk selalu punya semangat progressif.
I : Inovatif
Selain itu sebuah organisasi harus bersifat inovatif. Jika sistem yang lama tidak bekerja dengan baik cobalah buat sistem yang baru yang belum di terapkan dalam organisasi lain. Jangan terpaku dengan sistem lama karena dunia ini menuntut perubahan. Kalau kita hanya diam di tempat sementara perubahan terus berlari kencang. Celaka lah kita.
T : Tujuan
Organisasi harus punya pandangan ke depan sehingga setiap keputusan yang di ambil tidak melenceng. Jadi setiap organisasi harus punya tujuan yang jelas.
A : Action
Jangan terlalu banyak berdiskusi mengenai pembentukan sistem yagn baik segeralah action jangan teralu banyak membuang waktu. Jika punya program kerja yang baru segera lakukan. So, action!
K : Kekeluargaan
Sebaiknya sebuah organisasi harus punya hubungan seperti layaknya keluarga. Hindari permusuhan sesama anggota ataupun konflik ketua dengan anggota. Buatlah organisasi seperti layaknya sebuah keluarga.
K : Kerjasama
Tanpa aspek yang satu ini saya yakin sebuah organisasi sulit untuk maju. Bagiamana tidak, jika tidak ada koordinasi kerjasama antar komponen organisasi untuk melaksasnakan satu program kerja saja mungkin akan kesulitan dibuatnya.
K : Kreatif
Ciptakan sebuah produk-produk sebagai ciri maupun penemuan yang bermanfaat untuk orang lain. Jika anda adalah organisasi pecinta alam maka cipatakan lah sesuatu hal yang berhubungan dengan itu. Misal : Membuat rumah pohon, Flying Fox, Budidaya jamur, dll. Teruslah ciptakan produk-produk untuk mengkokohkan eksistensi sebuah organisasi.
K : Kompetitif 
Persaingan antar sesama organisasi itu wajar dan pasti ada. Untuk itu kita sebagai organisasi jangan punya sifat mengalah. Teruslah benahi dan harus lebih baik daripada pesaing kita. Tetapi persaingan disini bukan persaingan yang kotor.
Semoga tips di atas bermanfaat.

Hakikat Manusia Menurut Al-Qur'an

HAKEKAT MANUSIA MENURUT ALQUR'AN
Al-Qur'an menegaskan kualitas dan nilai manusia dengan menggunakan tiga macam istilah yang satu sama lain saling berhubungan, yakni  al-insaan ,  an-naas ,  al-basyar , dan  banii Aadam .
Manusia disebut al-insaan karena dia sering menjadi pelupa sehingga diperlukan teguran dan peringatan.
Sedangkan kata an-naas (terambil dari kata an-nawsyang berarti gerak; dan ada juga yang berpendapat bahwa ia berasal dari kata unaas yang berarti nampak) digunakan untuk menunjukkan sekelompok manusia baik dalam arti jenis manusia atau sekelompok tertentu dari manusia.
Manusia disebut al-basyar, karena dia cenderung perasa dan emosional sehingga perlu disabarkan dan didamaikan. Manusia disebut sebagai banii Aadam karena dia menunjukkan pada asal-usul yang bermula dari nabi Adam as sehingga dia bisa tahu dan sadar akan jati dirinya. Misalnya, dari mana dia berasal, untuk apa dia hidup, dan ke mana ia akan kembali.
Penggunaan istilah banii Aadam menunjukkan bahwa manusia bukanlah merupakan hasil evolusi dari makhluk anthropus (sejenis kera). Hal ini diperkuat lagi dengan panggilan kepada Adam dalam al-Qur'an oleh Allah dengan huruf nidaa (Yaa Adam!). Demikian juga penggunaan kata ganti yang menunjukkan kepada Nabi Adam, Allah selalu menggunakan kata tunggal (anta)dan bukan jamak (antum) sebagaimana terdapat dalam surah al-Baqarah ayat 35.
Manusia dalam pandangan al- Qur'an bukanlah makhluk anthropomorfisme yaitu makhluk penjasadan Tuhan, atau mengubah Tuhan menjadi manusia. Al-Qur'an menggambarkan manusia sebagai makhluk theomorfis yang memiliki sesuatu yang agung di dalam dirinya. Disamping itu manusia dianugerahi akal yang memungkinkan dia dapat membedakan nilai baik dan buruk, sehingga membawa dia pada sebuah kualitas tertinggi sebagai manusia takwa.
Al-Qur'an memandang manusia sebagaimana fitrahnya yang suci dan mulia, bukan sebagai manusia yang kotor dan penuh dosa. Peristiwa yang menimpa Nabi Adam sebagai cikal bakal manusia,yang melakukan dosa dengan melanggar larangan Tuhan, mengakibatkan Adam dan istrinya diturunkan dari sorga, tidak bisa dijadikan argumen bahwa manusia pada hakikatnya adalah pembawa dosa turunan.
Al-Quran justru memuliakan manusia sebagai makhluk surgawi yang sedang dalam perjalanan menuju suatu kehidupan spiritual yang suci dan abadi di negeri akhirat, meski dia harus melewati rintangan dan cobaan dengan beban dosa saat melakukan kesalahan di dalam hidupnya di dunia ini. Bahkan manusia diisyaratkan sebagai makhluk spiritual yang sifat aslinya adalah berpembawaan baik (positif, haniif).
Karena itu, kualitas, hakikat, fitrah, kesejatian manusia adalah baik, benar, dan indah. Tidak ada makhluk di dunia ini yang memiliki kualitas dan kesejatian semulia itu. Sungguhpun demikian, harus diakui bahwa kualitas dan hakikat baik benar dan indah itu selalu mengisyaratkan dilema-dilema dalam proses pencapaiannya.
Artinya, hal tersebut mengisyaratkan sebuah proses perjuangan yang amat berat untuk bisa menyandang predikat seagung itu. Sebab didalam hidup manusia selalu dihadapkan pada dua tantangan moral yang saling mengalahkan satu sama lain. Karena itu, kualitas sebaliknya yaitu buruk, salah, dan jelek selalu menjadi batu sandungan bagi manusia untuk meraih prestasi sebagai manusia berkualitas mutaqqin di atas.
Gambaran al-Qur'an tentang kualitas dan hakikat manusia di atas megingatkan kita pada teori superego yang dikemukakan oleh sigmund Freud, seorang ahli psikoanalisa kenamaan yang pendapatnya banyak dijadika rujukan tatkala orang berbicara tentang kualitas jiwa manusia.
Menurut Freud, superego selalu mendampingi ego. Jika ego yang mempunyai berbagai tenaga pendorong yang sangat kuat dan vital (libido bitalis), sehingga penyaluran doronganego (nafsu lawwamah/nafsu buruk) tidak mudah menempuh jalan melalui superego (nafsu muthmainnah/nafsu baik). Karena superego (nafsu muthmainnah) berfungsi sebagai badan sensor atau pengendali ego manusia.
Sebaliknya, superego pun sewaktu-waktu bisa memberikan justifikasi terhadap egomanakala instink, intuisi, dan intelegensi - ditambah dengan petunjuk wahyu bagi orang beragama- bekerja secara matang dan integral. Artinya superego bisa memberikan pembenaran pada ego manakala ego bekerja ke arah yang positif. Ego yang liar dan tak terkendali adalah ego yang negatif, ego yang merusak kualitas dan hakikat manusia itu sendiri.
Sebagai kesimpulan dapatlah diterangkan bahwa kualitas manusia berada diantara naluridan nurani. Dalam rentetan seperti itulah manusia berperilaku, baik perilaku yang positif maupun yang negatif. Fungsi intelegensi dapat menaikkan manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Namun intelegensi saja  tidaklah cukup melainkan harus diikuti dengan nurani yang tajam dan bersih. Nurani (mata batin, akal budi) dipahami sebagai superego, sebagiconscience atau sebagai nafsu muthmainnah (dorongan yang positif). Prof. Dr. Fuad Hasan mengatakan bahwa bagi manusia bukan sekedar to live (bagaimana  memiliki) dan to survive (bagaimana bertahan), melainkan juga to exist (bagaimana keberadaannya). Untuk itu, maka manusia memerlukan pembekalan yang kualitatif dan kuantitatif yang lebih baik daripada hewan.
Manusia bisa berkulitas kalau ia memiliki kebebasan untuk berbuat dan kehendak. Tetapi kebebasan disini bukanlah melepaskan diri dari kendali rohani dan akal sehat, melainkan upaya kualitatif untuk mengekspresikan totalitas kediriannya, sambil berjuang keras untuk menenangkan diri sendiri atas  dorongan naluriah yang negatif dan destruktif. Jadi kebebasan yang dimaksudkan disini adalah upaya sadar untuk mewujudkan kualitas dan nilai dirinya sebagai khalifah Allah di muka bumi secara bertangung jawab.
Kualitas dan nilai manusia akan terkuak bila manusia memiliki kemampuan untuk mengarahkan naluri bebasnya itu berdasarkan pertimbangan aqliah yang dikaruniai Allah kepadanya dan dibimbing oleh cahaya iman yang menerangi nuraninya yang paling murni.
Wallaahu A'lam.

Sejarah dan Profil Perusahaan PT.Mayora Indah Tbk


PT.MAYORA INDAH Tbk
Sejarah Dan Profil Perusahaan
PT.Mayora Indah Tbk di dirikan pada 17 februari 1977 dan mulai beroperasi secara komersial pada bulan mei 1978.Kantor pusat Mayora berlokasi di gedung Mayora ,Jl.Tomang Raya 21-23 jakarta.sedangkan pabriknya terletak di Tangerang dan Bekasi.
Kegiatan usaha dan produk yang di hasilkan adalah sesuai dengan anggaran dasarnya.karena PT.Mayora indah tbk adalah perusahaan perseroan,yang di produksi di antaranya adalah bidang industri.Dan saat ini PT.Mayora Indah Tbk memproduksi dan memiliki 6 divisi yang masing-masing menghasilkan produk  berbeda namun terintegrasi.yaitu biskuit,wafer,kembang gula,coklat,kopi dan makanan kesehatan.Perusahaan ini telah tercatat di bursa efek Indonesia sejak tanggal 4 juli 1990.
KEEFEKTIFAN STRUKTUR ORGANISASI
Bentuk organisasi PT.Mayora Indah Tbk adalah struktur organisasi proyek dengan hubungan organisasi,terutama pada orang orang yang bekerja pada proyek yang sama.di dalam struktur organisasi perusahaan ini terdiri dari beberapa kelompok dan fungsi yang berbeda.kendali perusahaan ini pada presiden direktur sebagai pucuk pimpinan.pelimpahan tugas kerja pada bawahan masing masing manajer departemen,kemudian di lanjutkan pada staff serta karyawan.Berikut ini struktur organisasi perusahaan.
a.Dewan komisaris
b.Direksi
            - Direksi utama
            - Direksi pemasaran
            - Direksi umum
            - Direksi pengembangan
            - Direksi keuangan
c. Divisi Biskuit
d. Divisi kembang gula
e. Divisi coklat dan wafer
f .Manajer plant
g. Manajer produk
h. Manajer quality
Visi Dan Misi Perusahaan
Visi  :  menjadi produsen dengan kualitas produk makanan dan minuman yang terpercaya oleh konsumen baik di pasar domestic maupun internasional dan mengendalikan saham yang signifikan.
Misi :
·        Terus meningkatkan kompetitip dalam kategori
·        Membangun merk yang kuat dan saluran distribusi di semua line
·        Menyediakan lingkungan kerja yang menantang,menyenangkan dan menguntungkan secara financial dengan persaingan yang adil.
Untuk mencapai visi dan misi PT.Mayora indah Tbk selalu berusaha mengembangkan :
a.produk
            untuk mengembangkan produk PT.Mayora terus mengembangkan produk produk baru yang berkualitas demi memenuhi kebutuhan pasar.seperti biskuit,wafer,permen,coklat,kopi dan makanan kesehatan.

b.media
            untuk memperluas pasar PT.Mayora mengenlkan produknya melalui beberapa media seperti berita,acara,video,foto,dan iklan.
c.pesaing
            mayora terus melakukan perbaikan agar dapat bersaing di pasar domestic dan internasional.
d.Hubungan Bisnis
            Dari segi bisnis perusahaan bergantung pada pemasok dan distribusi.
Adapun TUJUAN perusahaan perseroan ini adalah untuk memperoleh laba bersih operasi di atas rata rata industri dan memberikan nilai yang baik bagi seluruh stakeholders perseroan dan dapat memberikan konstribusi positif terhadap lingkungan dimanapun berada
Nilai nilai perusahaan
a.konsumen
            mengutamakan kepuasan konsumen
b.orang
            meningkatkan kualitas sdm,berani mengambil resiko,menghargai karya orang lain
c.kerja tim
 membangun kerja sama satu dan yang lainnya
d.keunggulan
meningkatkan proses dan cara kerja untuk meningkatkan kepuasan pelanggan.

Sumber daya manusia dan karir PT.Mayora Indah
Perusahaan terus memberikan fokus yang besar dalam pengembangan sumber daya manusia.penanaman nilai dan budaya Mayora merupakan salah satu langkah utama yang dijalankan dalam mendukung berkembangnya perusahaan melalui terciptanya soliditas dan loyalitas pekerja.
Untuk mendukung perkembangan perusahaan secara organisasi Divisi SDM secara berkelanjutan menyelenggarakan Mayora Development program,untuk mendapatkan calon pekerja dari perguruan tinggi untuk bergabung dan mengembangkan kemampuan profesional mereka untuk menjadi kader pemimpin mayora di masa depan.
Dan saat ini produk dari PT.Mayora Indah Tbk di percaya oleh masyarakat  serta dapat bersaing di pasar internasional maupun domestic.



Aliran Progresivisme dan Pendidikan


ALIRAN PROGRESIVISME DAN PENDIDIKAN


Description: E:\kumpulan tugas filsafat\Untirta_Logo.jpg

Disusun oleh:
Icih sopiyati
Ida rosihah
Intan rahmania
3b pgsd

Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan
Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitan Sultan Ageng  Tirtayasa


ALIRAN PROGREVISME DAN PENDIDIKAN
A.Pengertian dan Sejarah munculnya Filsafat Progresivisme
Progresivisme adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Progravisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi dan mengatasi maslah- masalah yang bersifat menekan atau mengancam adanya manusia itu sendiri. Oleh karena itu, kemajuan atau progres ini menjadi suatu statemen progrevisme, maka beberapa ilmu pengetahuan yang mampu menumbuhkan kemajuan dipandang merupakan bagian utama dari kebudayaan yang meliputi ilmu-ilmu hayat, antropologi, psikologi dan ilmu alam. Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. Tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalamanpengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan social yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar “naturalistik”, hasil belajar “dunia nyata” dan juga pengalaman teman sebaya. Aliran progesivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan saat ini. Aliran ini telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberikan kebaikan, baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. Oleh karena itu, filsafat progesivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Kita telah ketahui bahwa menurut aliran ini kehidupan manusia berkembang terus menurus dalam suatu arah yang positif. Apa yang dipandang benar sekarang belum tentu benar pada masa yang akan datang. Oleh sebab itu, peserta didik bukanlah dipersiapkan untuk menghidupi masa kini, melainkan mereka harus dipersiapkan menghadapi kehidupan masa yang akan datang. Permasalahan hidup masa kini tidak akan sama dengan
permasalahan hidup masa yang akan datang. Untuk itu, peserta didik harus diperlengkapi dengan strategi-strategi untuk menghidupi masa yang akan datang dan pemecahan masalah yang memungkinkan mereka akan mengatasi permasalahan-permasalahan baru dalam kehidupan.  Progresivisme bukan merupakan suatu bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, malainkan merupakan aliran suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan tahun 1918. Selama 20 tahun menjadi gerakan yang sangat kuat di Amerika Serikat banyak guru yang ragu-ragu terhadap gerakan ini. Gerakan progeresik terkenal luas karena reaksinya terhadap formalisme dan sekolah tradisional yang membosankan, yang menekankan disiplin keras belajar pisik dan banyak hal-hal kecil yang tidak bermanfaat dalam pendidikan.
Pengaruh progresivisme terasa di seluruh dunia, terlebih-lebih di Amerika Serikat. Usaha pembaharuan di dalam lapangan pendidikan pada umumnya terdorong oleh aliran progresivisme ini. John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi maksudnya sebagai proses pertumbuhan anak didik dapatmengambil kejadian-kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan, sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah saja. Dengan demikian, sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. Karena sekolah adalah bagian dari masyarakat. Dan untuk itu, sekolah harus dapat mengupayakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekolah sekitar atau daerah di mana sekolah itu berada. Untuk dapat melestarikan usaha ini, sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhususan daerah itu. Untuk itulah, fisafat progesivisme menghendaki sistem pendidikan dengan bentuk belajar “sekolah sambil berbuat” atau learning by doing.
Progresivisme menghendaki pendidikan yang pada hakikatnya progresif. Tujuan pendidikan hendaknya diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus-menerus, agar peserta didik dapat berbuat sesuatu yang inteligen dan mampu mengadakan penyesuaian dan penyesuaian kembali sesuai dengan tuntutan dari lingkungan. Biasanya aliran progresivisme ini di hubungkan dengan pandangan hidup liberal (the liberal road to), dan culture. Maksudnya adalah pandangan hidup yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut; fleksibel (tidak kaku, tidak menolak perubahan, tidak terikat oleh suatu doktrin tertentu), curios (ingin mengetahui, ingin menyelidiki), toleran dan open-minded (mempunyai hati terbuka).
Sejarah mengatakan perkembangan aliran Progresivisme dianggap sebagai aliran pikiran yang baru muncul dengan jelas pada pertengahan abad ke-19, akan tetapi garis perkembangannya dapat ditarik jauh kebelakang sampai pada zaman Yunani purba. Misalnya Hiraclitus (544 ), Socrates (469), Protagoras (480) dan Aristoteles. Mereka pernah mengemukakan pendapat yang dapat dianggap sebagai unsur-unsur yang ikut menyebabkan sikap jiwa yang disebut pragmatisme-Progresivisme. Heraclitus mengemukakan bahwa sifat yang utama dari realita ialah perubahan. Tidak ada sesuatu yang tetap didunia ini, semuanya berubahubah, kecuali asa perubahan itu sendiri. Socrates berusaha mempersatukan epsitemologi dan aksiologi. Ia mengajarkan bahwa pengetahuan adalah kunci untuk kebajikan. Yang baik dapat dipelajari dengan kekuatan intelek, dan pengetahuan yang baik menjadi pedoman bagi manusia untuk melakukan kebajikan. Ia percaya bahwa manusia sanggup melakukan baik. Protagoras mengajarkan bahwa kebenaran dan norma atau nilai tidak bersifat mutlak, melainkan relatif, yaitu bergantung pada waktu dan tempat. Sedangkan Aristoteles menyarankan moderasi dan kompromi (jalan tengah bukan jalan ekstrim) dalam kehidupan.
Kemudian sejak abad ke-16, Francis Bacon, John Locke, Rousseau, Kant, dan Hegel dapat disebut sebagai penyumbang pikiran-pikiran munculnya aliran Progresivisme. Francis Bacon memberikna sumbangan dengaan model undangan ke dua puluh satu model undangan ke dua puluh dua model undangan ke dua puluh tiga usahanya memperbaiki dan memperhalus metode ilmiah dalam pengetahuan alam. Locke dengan ajarannya tentang kebebasan politik. Rousseau dengan keyakinannya bahwa kebaikan berada didalam manusia karena kodrat yang baik dari para manusia. Kant memuliakan manusia, menjunjung tinggi akan kepribadian manusia, memberi martabat manusia suatu kedudukan yang tinggi. Hegel mengajarkan bahwa alam dan masyarakat bersifat dinamis, selamanya berada dalam keadaan bergerak, dalam proses perubahan dan penyesuaian yang tak ada hentinya.
Dalam abad ke- 19 dan ke-20, tokoh-tokoh Progresivisme banyak terdapat di Amerika Serikat. Thomas Paine dan Thomas Jefferson memberikan sumbangan pada Progresivisme karena kepercayaan mereka pada demokrasi dan penolakan terhadap sikap yang dogmatis, terutama dalam agama. Charles S. Peirce mengemukakan teori tentang pikiran dan hal berfikir “pikiran itu hanya berguna bagi manusia apabila pikiran itu bekerja yaitu memberikan pengalaman (hasil) baginya. Fungsi berfikir adalah membiasakan manusia untuk berbuat. Perasaan dan gerak jasmaniah adalah manifestasi dari aktifitas manusia dan keduanya itu tidak dapat dipisahkan dari kegiatan berfikir. B. Tokoh-tokoh aliran Filsafat Progresivisme Ada beberapa tokoh progresivisme yang berperan penting dalam mengembangkan aliran ini, antara lain :
1. William James (1842 –1910)
William James seorang psychologist dan seorang filosuf Amerika yang sangat terkenal. Paham dan ajarannya demikian pula kepribadiannya sangat berpengaruh diberbagai negara Eropa dan Amerika. Meskipun demikian dia sangat pandai berceramah dibidang filsafat, juga terkenal sebagai pendiri Pragmatisme. James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku. Buku karangannya yang berjudul Principles of Psychology yang terbit tahun 1890 yang membahas dan mengembangkan ide-ide tersebut, dengan cepat menjadi buku klasik dalam bidang itu, hal inilah yang mengantar William James terkenal sebagai ahli filsafat Pragmatisme dan Empirisme radikal. Demikian pula kepribadiannya sangat berpengaruh diberbagai Negara Eropa dan Amerika. Meskipun demikian dia sangat terkenal dikalangan umum Amerika sebagai penulis yang sangat brilian, dosen serta penceramah dibidang filsafat, juga terkenal sebagai pendiri Pragmatisme. James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku.
2. John Dewey (1859 - 1952)
John Dewey adalah seorang profesor di universitas Chicago dan Columbia (Amerika). Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Maka muncullah "Child Centered Curiculum", dan
"Child Centered School". Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas, seperti yang diungkapkan Dewey dalam bukunya "My Pedagogical Creed", bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang. Dewey mengembangkan pragmatisme dalam bentuknya yang orisinil, tapi meskipun demikian, namanya sering pula dihubungkan terutama sekali dengan versi pemikiran yang disebut instrumentalisme. Adapun ide filsafatnya yang utama, berkisar dalam hubungan dengan problema pendidikan yang konkret, baik teori maupun praktik. reputasi (nama baik) internasionalnya terletak dalam sumbangan pikirannya terhadap filsafat pendidikan Progressivisme Amerika. Dewey tidak hanya berpengaruh dalam kalangan ahli filsafat profesional, akan tetapi juga karena perkembangan idenya yang fundamental dalam bidang ekonomi, hukum, antropologi, teori politik dan ilmu jiwa. Dia adalah juru bicara yang sangat terkenal di Amerika Serikat dari cara-cara kehidupan demokratis. Diantara karya-karya Dewey yang dianggap penting adalah Freedom and Cultural, Art and Experience, The Quest of Certainty Human Nature and Conduct (1922), Experience and Nature (1925), dan yang paling fenomenal adalah Democracy and Education(1916).
3. Hans Vaihinger (1852-1933)
Hans Vaihinger berpendapat bahwa tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan; satusatunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata; jika pengertian itu berguna. Untuk menguasai dunia, bolehlah dianggap benar, asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja.
B. Pandangan Filsafat Progresivisme tentang Pendidikan
Dasar filosofis dari aliran progresivisme adalah Realisme Spiritualistik dan Humanisme Baru. Realisme spiritualistik berkeyakinan bahwa gerakan pendidikan progresif bersumber dari prinsip-prinsip spiritualistik dan kreatif dari Froebel dan Montessori serta ilmu baru tentang perkembangan anak. Sedangkan Humanisme baru menekankan pada penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia sebagai individu. Dengan demikian orientasinya individualistik. Ada beberapa pandanagan filsafat progresivisme, antara lain :
1. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan menurut pandangan aliran ini adalah pendidikan harus memberikan keterampilan dan alat-alat yang bermanfaat untuk berintraksi dengan lingkungan yang berada dalam proses perubahan secara terus menerus. Yang dimaksud dengan alat-alat adalah keterampilan pemecahan masalah yang dapat digunakkan individu untuk menentukan, menganalisis, dan memecahkan masalah. Pendidikan bertujuan agar peserta didik memilki kemampuan memecahkan berbagai masalah baru dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial, atau dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar yang berada dalam proses perubahan. Selain itu, pendidikan juga bertujuan membantu peserta didik untuk menjadi warga negara yang demokratis. Proses belajar mengajar terpusatkan pada prilaku dan disiplin diri. Tujuan keseluruhan pendidikan sendiri adalah melatih anak agar kelak dapat bekerja, bekerja secara sistematis, mencintai kerja, dan bekerja dengan otak dan hati. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan harusnya merupakan pengembangan sepenuhnya bakat dan minat setiap anak. Agar dapat bekerja siswa diharapkan memiliki keterampilan, alat dan pengalaman sosial, dan memiliki pengalaman problem solving.
2. Kurikulum Pendidikan
Kalangan progresif menempatkan subjek didik pada titik sumbusekolah (child-centered). Mereka  lalu berupaya mengembangkan kurikulum dan metode pengajaran yang berpangkal pada kebutuhan, kepentingan, dan inisiatif subjek didik. Jadi, ketertarikan anak adalah titik tolak bagi pengalaman belajar. Imam Barnadib menyatakan bahwa kurikulum progresivisme adalah kurikulum yang tidak baku dan dapat direvisi, sehingga yang cocok adalah kurikulum yang berpusat pada pengalaman. Sains sosial sering dijadikan pusat pelajaran yang digunakan dalam pengalaman-pengalaman siswa, dalam pemecahan masalah serta dalam kegiatan proyek. Disini guru menggunakan ketertarikan alamiah anak untuk membantunya belajar berbagai keterampilan yang akan mendukung anak menemukan kebutuhan dan keinginan terbarunya. Akhirnya, ini akan membantu anak (subjek didik) mengembangkan keterampilan-keterampilan pemecahan masalah dan membangun informasi yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan sosial.[19] Kurikulum disusun dengan pengalaman siswa, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman sosial, selain social sering dijadikan pusat pelajaran yang digunakan dalam pengalamanpengalaman siswa dan dalam pemecahan masalah serta dalam kegiatan proyek.
Sekolah yang baik itu adalah sekolah yang dapat memberi jaminan para siswanya selama belajar, maksudnya yaitu sekolah harus mampu membantu dan menolong siswanya untuk tumbuh dan berkembang serta memberi keleluasaan tempat untuk para siswanya dalam mengembangkan bakat dan minatnya melalui bimbingan guru dan tanggung jawab kepala sekolah. Kurikulum dikatakan baik apabila bersifat fleksibel dan eksperimental (pengalaman) dan memiliki keuntungan-keuntungan untuk diperiksa setiap saat. Sikap progressvisme, memandang segala sesuatu berasaskan fleksibilitas, dinamika dan sifat-sifat yang sejenis, tercermin dalam pandangannya mengenai kurikulum sebagai pengalaman yang edukatif, bersifat eksperimental dan adanya rencana dan susunan yang teratur. Menurut Progresivisme, Kurikulum hendaknya : Tidak universal melainkan berbeda-beda sesuai dengan kondisi yang ada Disesuaikan dengan sifat-sifat peserta didik (minat, bakat, dan kebutuhan setiap peserta didik) atau chil centered. Berbasis pada masyarakat. Bersifat fleksibel dan dapat berubah atau direvisi.
3. Metode Pendidikan
Metode pendidikan yang biasanya dipergunakan oleh aliran progresivisme diantaranya adalah :
􀀀 Metode Pendidikan Aktif, Pendidikan progresif lebih berupa penyediaan
lingkungan dan fasilitas yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara bebas pada setiap anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya.
􀀀 Metode Memonitor Kegiatan Belajar, Mengikuti proses kegiatan anak belajar sendiri, sambil memberikan bantuan-bantuan apabila diperlukan yang sifatnya memperlancar berlangsung kegiatan belajar tersebut.
􀀀 Metode Penelitian Ilmiah, Pendidikan progresif merintis digunakannya metode penelitian ilmiah yang tertuju pada penyusunan konsep.
􀀀 Pemerintahan Pelajar, Pendidikan progresif memperkenalkan pemerintahan pelejar dalam kehidupan sekolah dalam rangka demokratisasi dalam kehidupan sekolah.
􀀀 Kerjasama Sekolah Dengan Keluarga, Pendidikan Progresif mengupayakan adanya kerjasama antara sekolah dengan keluarga dalam rangka menciptakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak untuk mengekspresikan secara alamiah semua minat dan kegiatan yang diperlukan anak.
􀀀 Sekolah Sebagai Laboratorium Pembaharuan Pendidikan, Sekolah tidak hanya tempat untuk belajar, tetapi berperanan pula sebagai laboratoriun dan pengembangan gagasan baru pendidikan.
4. Pendidikan
Progrisivisme di dasarkan pada keyakinan bahwa pendidikan harus terpusat pada anak bukanlah memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Menurut progresivisme, pendidikan selalu dalam proses perkembangan dan sebagai suatu rekonstruksi pengalaman yang terus-menerus. Progresivisme menekankan enam prinsip mengenai pendidikan dan belajar, yaitu :
􀀀 Pendidikan seharusnya adalah hidup itu sendiri, bukan persiapan untuk kehidupan.
􀀀 Belajar harus langsung berhubungan dengan minat anak.
􀀀 Belajar melalui pemecahan masalah hendaknya diutamakan daripada pemberian bahan pelajaran.
􀀀 Guru berperan sebagai pemberi advise, bukan untuk mengarahkan.
􀀀 Sekolah harus menggerakkan kerjasama daripada kompetensi.
􀀀 Demokrasilah satu-satunya yang memberi tempat dan menggerakkan pribadi-pribadi saling tukar menukar ide secara bebas, yang diperlukan untuk pertumbuhan sesungguhnya.
5. Pelajar
Kaum progresif menganggap subjek-subjek didik adalah aktif, bukan pasif, sekolah adalah dunia kecil (miniatur) masyarakat besar, aktifitas ruang kelas difokuskan pada praktik pemecahan masalah, serta atmosfer sekolah diarahkan pada situasi yang kooperatif dan demokratis. Mereka menganut prinsip pendidikan perpusat pada anak (child-centered). Mereka menganggap bahwa anak itu unik. Anak adalah anak yang sangat berbeda dengan orang dewasa. Anak mempunyai alur pemikiran sendiri, mempunyai keinginan sendiri, mempunyai harapan-harapan dan kecemasan sendiri yang berbeda dengan orang dewasa.
6. Pengajar (guru)
Guru dalam melakukan tugasnya mempunyai peranan sebagai :
􀀀 Fasilitator, orang yang menyediakan diri untuk memberikna jalan kelancaran proses belajar sendiri siswa.
􀀀 Motivator, orang yang mampu membangkitkan minat siswa untuk terus giat belajar sendiri.
􀀀 Konselor, orang yang membantu siswa menemukan dan mengatasi sendiri masalah-masalah yang dihadapi oleh setiap siswa. Dengan demikian guru perlu mempunyai pemahaman yang baik tentang karakteristik siswa, dan teknik-teknik memimpin perkembangan siswa, serta kecintaan pada anak agar dapat menjalankan peranannya dengan baik.
D. Pandangan Umum Filsafat Progresivisme
1. Pandangan secara Ontologi
Asal Hereby atau asal keduniawian, adanya kehidupan realita yang amat luas tidak terbatas, sebab kenyataan alam semesta adalah kenyataan dalam kehidupan manusia. Pengalaman adalah kunci pengertian manusia atas segala sesuatu, pengalaman manusia tentang penderitaan, kesedihan, kegembiraan, keindahan dan lain-lain adalah realita manusia hidup sampai mati, Pengalaman adalah suatu sumber evolusi, yang berarti perkembangan, maju setapak demi setapak mulai dari yang mudah-mudah menerobos kepada yang sulit-sulit (proses perkembangan yang lama). Pengalaman adalah perjuangan, sebab hidup adalah tindakan dan perubahan-perubahan. Manusia akan tetap hidup berkembang, jika ia mampu mengatasi perjuangan, perubahan dan berani bertindak. Ontology progresivisme mengandung pengertian dan kualitas evolusionistis yang kuat, Pengalaman diartikan sebagai ciri dinamika hidup, dan hidup adalah perjuangan tindakan dan perbuatan. Sifat-sifat pengalaman :
􀀀 Pengalaman itu dinamis adalah dalam kehidupan terjadi perubahan yang terjadi terus menerus.
􀀀Pengalaman itu temporal adalah terjadi perubahan dan perbedaan pengalaman dari waktu       kewaktu.
􀀀 Pengalaman itu spatial adalah terjadi disuatu tempat dalam lingkungan manusia.
􀀀 Pengalaman itu pluralistis yaitu pengalaman itu terjadi seluas adanya interaksi sedalam individu terlibat.
2. Pandangan secara Epistemologi
Pengetahuan adalah informasi, fakta, hukum prinsip, proses, kekuasaan yang terakumulasi dalam pribadi sebagai hasil proses interaksi pengalaman. Pengetahuan diperoleh manusia baik seeara langsung melalui pengalaman dan kontak dengan segala realita dalam lingkun hidupnya, ataupun pengetahuan diperoleh langsung melalui catatan (buku-buku, kepustakaan). Pengetahuan adalah hasil aktivitas tertentu. Epistimologi mengkaji tentang teori-teori pengetahuan, menangani persoalan tentang sifat dasar pengetahuan manusi. Makin sering kita menghadapi tuntutan lingkungan dan makin banyak pengalaman kita dalam praktek, maka makin besar persiapan menghadapi tuntutan masa depan. Pengetahuan harus disesuaikan dimodifikasi dengan realita baru di dalam lingkungan. Kebenaran dan kemampuan suatu ide memecahkan masalah, kebenaran adalah (sekuen dan pada sesuatu ide, realita pengetahuan dan daya guna. Ada tiga hal yang dibicarakan dalam Epistimologi Filsafat yaitu :
􀀀 Objek filsafat (yang dipikirkan)
􀀀 Cara memperoleh pengetahuan filsafat
􀀀 Ukuran kebenaran (pengetahuan ) filsafat.
􀀀 Objek Filsafat
Tujuan berfilsafat adalah menemukan kebenaran yang sebenarnya, yang terdalam. Susunan hasil pemikiran disebut Sistematika Filsafat atau Struktur Filsafat yang terdiri atas ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Isi setiap cabang filsafat ditentukan oleh objek apa yang diteliti (dipikirkan). Jika memikirkan pendidikan, jadilah filsafat pendidikan, dan seterusnya. Objek penelitian filsafat lebih luas dari objek penelitian sain sebab filsafat meneliti objek yang Ada dan mungkin ada.
􀀀 Cara Memperoleh Pengetahuan Filsafat
Berfilsafat ialah berfirkir, dan berfikir itu menggunakan akal. Dari sini timbul masalah apa itu“akal“. Akal ini diperdebatkan oleh ahli akal (Locke,Voltaire, Will Durant, David Hume,dan sebagainya dan orang –orang yang secara intesif mengunakan akalnya.Untuk itu mereka menerima bahwa “bahwa akal itu ada”, dan ia bekerja berdasarkan suatu cara yang tidak begitu kita kenal. Aturan kerjanyadisebut “ logika “. Sejauh akal itu bekerja menurut aturan logika, agaknya kita dapat menerima kebenarannya. Kerja akal yaitu berfikir mendalam, menghasilkan filsafat.
􀀀 Ukuran Kebenaran Pengetahuan Filsafat
Pengetahuan filsafat merupakan pengetahuan yang logis. Ukuran kebenaran filsafat ialah logis tidaknya pengetahuan itu. Bila logis benar, bila tidak logis, salah. Ukuran logis tidaknya terlihat pada argumen yang menghasilkan kesimpulan (teori). Argumen menjadi kesatuan dengan konklusi, dan konklusi ini disebut teori filsafat. Bobot teori filsa fat terletak pada kekuatan argumen, maka diterima pendapat yang mengatakan bahwa filsafat itu argumen. Kebenaran konklusi ditentukan 100% oleh argumen.
3. Pandangan secara Aksiologi
Nilai timbul karena manusia mempunyai bahasa, dengan demikian adanya pergaulan. Masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai-nilai. Bahasa adalah sarana ekspresi yang berasal dari dorongan, kehendak, perasaan, kecerdasan dari individu-individu. Nilai itu benar atau salah, baik atau buruk dapat dikatakan adalah menunjukkan kecocokan dengan hasil pengujian yang dialami manusia dalam pergaulan manusia.
4. Pandangan dari Sudut Budaya
Kebudayaan sebagai hasil budi manusia, dalam berbagai bentuk dan manifestasinya, dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak kaku, melainkan selalu berkembang dan berubah. Filsafat progresivisme menganggap bahwa pendidikan telah mampu merubah dan membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan cultural dan tantangan zaman, sekaligus menolong manusia menghadapi transisi antara zaman tradisional untuk memasuki zaman modern (progresif). Manusia sebagai makhluk berakal dan berbudaya selalu berupaya untuk mengadakan perubahan-perubahan. Dengan sifatnya yang kreatif dan dinamis manusia terus berevolusi meningkatkan kualitas hidup yang semakin terus maju. Kenyataan menunjukkan bahwa pada zaman purbakala manusia hidup di pohon-pohon atau gua-gua. Hidupnya hanya bergantung dengan alam. Alamlah yang mengendalikan manusia. Dengan sifatnya yang tidak iddle curiousity (rasa keingintahuan yang terus berkembang) makin lama daya rasa, cipta dan karsanya telah dapat mengubah alam menjadi sesuatu yang berguna. Alamlah yang dikendalikan oleh manusia. Hidup manusia tidak lagi di pohon-pohon atau gua-gua, akan tetapi dengan potensi akalnya manusia telah membangun gedung-gedung yang menjulang tinggi, rumah-rumah mewah. Filsafat progresivisme yang memiliki konsep manusia memiliki kemampuan-kemampuan yang dapat memecahkan problematika hidupnya, telah mempengaruhi pendidikan, di mana dengan pembaharuanpembaharuan pendidikan telah dapat mempengaruhi manusia untuk maju (progress). Sehingga semakin tinggi tingkat berpikirnya manusia maka semakin tinggi pula tingkat budaya dan peradaban manusia. Akibatnya anakanak tumbuh menjadi dewasa, masyarakat yang sederhana dan terbelakang menjadi masyarakat yang komplek dan maju.














KESIMPULAN
Progresivisme adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Gerakan Progresivisme ini sangat berpengaruh dalam pendidikan bangsa Amerika pada permulaan abad ke-20. Progresivisme memberikan perlawanan terhadap formalisme yang berlebihan dan membosankan dari sekolah atau pendidikan yang tradisional. Contoh: Progresivisme menolak pendidikan yang bersifat otoriter, menolak penekanan atas disiplin yang keras, menolak cara-cara belajar yang bersifat pasif, menolak konsep dan cara-cara pendidikan yang hanya berperan untuk mentransfer kebudayaan mastarakat kepada generasi muda, dan berbagai hal lainnya yang dipandang tidak berarti. Dari paparan makalah diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan disekolah berpusat pada anak (child centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang berpusat pada guru (teacher-centered) atau bahan pelajaran (subjectcentered). Progresivisme menghendaki pendidikan yang pada hakikatnya progresif. Tujuan pendidikan hendaknya diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus-menerus, agar peserta didik dapat berbuat sesuatu yang inteligen dan mampu mengadakan penyesuaian dan pennyesuaian kembali sesuai dengan tuntutan dari lingkungan.
2. Meskipun Progresivisme dianggap sebagai aliran pikiran yang baru muncul dengan jelas pada pertengahan abad ke-19, akan tetapi garis perkembangannya dapat ditarik jauh kebelakang sampai pada zaman Yunani purba yaitu melalui pemikiran-pemikiran Hiraclitus, Socrates, Protagoras, dan Aristoteles. Kemudian sejak aba abad ke-16, Francis Bacon, John Locke, Rousseau, Kant, dan Hegel dapat disebut sebagai penyumbang pikiran-pikiran munculnya aliran Progresivisme. Sedangkan pada abad ke- 19 dan ke-20, tokoh-tokoh Progresivisme banyak terdapat di Amerika Serikat diantaranya adalah Thomas Paine,Thomas Jefferson, Charles S. Peirce.
3. Progresivisme berpandangan bahwa tujuan keseluruhan pendidikan adalah melatih anak agar kelak dapat bekerja, bekerja secara sistematis, mencintai kerja, dan bekerja dengan otak dan hati. Mereka berupaya mengembangkan kurikulum dan metode pengajaran yang berpangkal pada kebutuhan, kepentingan, dan inisiatif subjek didik. Metode pendidikan yang biasa mereka pergunakan diantaranya adalah; Metode Pendidikan Aktif, Metode Memonitor Kegiatan Belajar, Metode Penelitian Ilmiah, Pemerintahan Pelajar, Kerjasama Sekolah Dengan Keluarga, Sekolah Sebagai Laboratorium Pembaharuan. Mereka menganut prinsip pendidikan perpusat pada anak (child-centered). Guru dalam melakukan tugasnya mempunyai peranan sebagai Motivator, Fasilitator, dan Konselor.